Cuaca mendung Jakarta membuat saya bermalas-malasan. Biasanya untuk menepis dingin saya menyeduh secangkir teh panas. Namun saya teringat janji dengan Arie Parikesit, food enthusiast untuk bertemu membulatkan tekad saya berangkat ke Setiabudi One. Sembari bertukar kabar, kami ingin nongkrong di kedai kopi yang baru buka, ST. ALi.

Kami bercanda bahwa brand ini dipanggil Stasiun Ali, karena memang mirip dengan nama daerah di Bandung yaitu Stasiun Hall yang disingkat St. Hall. Tentu saja olok-olok ini hanya sekedar membandingkan kalau St. Hall bisa dibranding jadi sebuah nama kedai kopi.

DARI MELBOURNE KE JAKARTA

Desain dan dekorasi trendi menyapa kami saat memasuki ST. ALi. Harum aroma kopipun menyeruak di dalam ruangan berdinding putih yang kontras dengan meja dan kursi kayu yang kakinya dicat warna biru pastel. Tulisan Melbourne Australia dengan font DT Nobel Bold terpampang di tembok persis di bawah lampu bohlam yang berjajar.

St. ALi juga tak tanggung-tanggung untuk membawa nuansa kedai kopi kota Melbourne ke Jakarta dengan mendatangkan mesin-mesin kopi langsung dari negara asalnya dan dipajang di atas bar sepanjang 100 meter. Gaya kedai terbuka ini menjadikan susana yang hangat dan intim.

Saya bukanlah penggemar kopi, sehingga memilih jenis yang akan saya sesap juga merupakan problem tersendiri. Untuk itu Arie Parikesit menyarankan saya untuk memilih Kopi Filter supaya tidak terlalu asam. Setuju dengan usul beliau, saya milih secangkir Kenyan Kopi seharga 60rb. Harga yang lumayan mahal menurut ukuran harga kopi di Jakarta.

ST. ALI TIDAK MENGGUNAKAN KOPI INDONESIA

Kedai ini hadir di Jakarta bekerjasama dengan Common Ground Roastery. Saya sempat membaca bahwa ST. ALi tidak menggunakan kopi dari Indonesia karena kurang konsistennya hasil dan citarasanya. Alasan itulah yang membuat  ST. ALi mengambil langsung kopi dari Guatemala dan Brazil.

Sebagai bukan peminum kopi tentu saya hampir tidak bisa membedakan jenis kopi yang ada. Meskipun dulu saya besar di keluarga nenek saya yang menyangrai kopi dicampur dengan jagung dan bongkahan kelapa untuk kemudian ditumbuk halus. Kemudian diseduh dengan air panas dan cemilan.

Tentu saja hal ini berbeda dengan kopi di kedai ini yang diseduh dengan teknik cold-dripsiphonnitro, dan pour over. Sebuah trend baru yang coba mereka bawa dari Australia ke Jakarta.

Suasana saat itu cukup ramai. Harusnya jam makan siang sudah berakhir, namun beberapa karyawan memilih untuk melanjutkan acara ngopi santai mereka. Saya dan Arie Parikesit juga harus bergegas pergi karena masing-masing dari kami sudah punya agenda yang lain.

Hadirnya kedai kopi ini menambah jumlah kedai yang sedang menjamur  di Jakarta. Namun pengalaman menarik untuk menyesap kopi dengan gaya Melbourne, sepertinya patut Anda coba.

St. ALi
Setiabudi 2 Building #1A
Jalan H.R. Rasuna Said Kav. 62
Jakarta Selatan 12920

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here